Langsung ke konten utama

Nggak setiap hari aku berhasil

 

Butuh waktu satu sampai dua tahun untukku memahami apa maunya diri sendiri. Sampai sekarang pun, masih terus belajar memahami.

Foto saat jalan -jalan di pasar.

Goalsku selalu beda beda tiap bangun tidur. Pagi ini aku ingin tenang sampai ujung hari, pagi kedua aku ingin sesuatu yang baru, pagi ketiga aku ingin maksimalkan perasaanku pada hal yang kutekuni, pagi ke empat aku ingin lebih sosial ke orang orang terdekatku. Sampai pada pagi ke lima, aku tidak punya rencana apapun. Di penghujung hari aku hanya terdiam, berpikir "tidak ada yang bisa ku capai hari ini". Pagi ke enam dan ke tujuh aku coba mengerahkan seluruh bahan bakar yang kupunya, yang ku dapat malah kelelahan.

Nggak setiap hari aku berhasil melewati waktu yang kupikir baik untukku. Rencana rencana yang di susun apik dan rapi, bisa keluar dari arena kepemilikanku.

Nggak setiap hari aku berhasil memahami diriku. Bahkan dalam cermin mataku, aku bisa menjadi seribu wajah yang tak selalu kukenali.

Nggak setiap hari aku berhasil, namun setiap hari selalu ada satu ide yang hidup.

Hidup adalah perjalanan panjang. Semacam karya wisata yang tak pernah selesai menciptakan sejarah di tiap langkah kecilnya. Hari ini dan esok akan terkenang bagaimanapun bentuknya. Tidak ada jalan yang benar benar kupahami, selama ini hanya gambaran dari para penjejak waktu yang menjadi peta samar di kepalaku. Mereka para kolektor masa, menyimpan emas dalam genggamannya semakin erat mereka menjaga, semakin bernilai tinggi.

Untuk perjalanan yang pemandangannya itu itu saja, aku harap setidaknya dalam setiap pagi, caraku menyapamu selalu berbeda. Aku bersyukur karena setiap hari ide dan inginku tetap bebas, meski panoramanya tak banyak berubah. Terima kasih untuk, tumbuhnya inginku yang bebas.

Kadang aku tersesat di antara keinginan dan kenyataan, tapi mungkin di situlah seni dari menjadi manusia, belajar menari di antara "ingin" dan "mampu".

Aku tak lagi menuntut hari agar selalu indah, mulus, berwarna warni, aku hanya ingin punya alasan kecil untuk tetap melangkah, meski pelan pelan. Esok pagi, mungkin aku masih ragu, tapi setidaknya aku tau, setiap kebingungan yang datang, adalah tanda bahwa aku masih mencari arti hidupku sendiri.

Dan selama aku masih mencari,
aku terus bertumbuh.

Mungkin kamu juga tak selalu memahami diri sendiri setiap hari, atau kadang lelah dengan rencana yang tak berjalan seperti harapan. Tapi percayalah, setiap ide kecil, setiap keinginan yang muncul, itu adalah tanda bahwa kamu, masih punya ruang untuk mencoba lagi. <3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan - Jalan Malam Denganku dan Isi Kepalaku (Tiap Pukul 10)

fase kehidupan ini bener - bener gak pernah berakhir sebelum kita meninggal. tau gak? fase pelangi menjadi favoriteku. lengkungnya seperti tersenyum padaku. merah, kuning, hijau, tak pernah redup untuk pertama kalinya. fase ini, aku menggandeng seluruh jiwa yang bersembunyi, tak perlu takut, ada aku. fase selanjutnya... aku harap aku masih dibutuhkan. *** anak ini, mula - mula ingin menjadi dokter , namun saat remaja dia ingin jadi polisi, penyanyi, pelukis, pengarang. dewasa ini dia bagaikan air, tak sederas air terjun, tak sekuat deburan ombak, namun tak kering juga seperti musim di awal tahun. anak ini, masih berdiri diatas hobinya, berlayar dengan imajinasinya, larut dalam indahnya proses tumbuh menjadi apa yang dia mau. *** peran. "kamu itu mirip bapakmu" atau "kamu itu mirip ibumu" selain diriku, kalian jadi tau separuhku ya separuhnya mereka. aku suka sekali menulis, aku suka sekali keindahan yang dirasakan melalui mata dan telinga. ternyata disanalah bapakku...

Yang Mulai Sunyi, Diam dan Hilang

fotrek dari kameraku yang ikut happy Kapan hari ada satu konten lewat di beranda tiktokku, kontennya mbak mbak pulang kerja weekend langsung cus mendaki, seru kali bisa meluangkan waktunya untuk ' healing ' pikirku. Lalu aku bergulir ke comment section dan nemu beberapa komentar gini "kayaknya hobi ini bakal berakhir" terus ada yang bales "semua hobi bakal berakhir, kak." Aku diem, bengong, kosong. Teringat buku buku jurnalku, buku diary , sepedaku, kameraku, matcha toolsku, alat alat baking -ku, dan buku bacaan yang terakhir kali kubeli. Mereka semua hampir terbengkalai, hampir tak kusentuh lagi, meliriknya pun tak sempat. Aku takut mengiyakan komentar komentar itu. Denial. " aku hanya beristirahat"  batinku bohong.  Mungkin, hobi itu nggak benar benar berakhir. Mereka cuma lagi duduk diam, menunggu untuk kupanggil lagi, kusentuh lagi. Mereka hanya menunggu, setia, tanpa protes. Malah yang bikin aku takut bukan karena hobiku bakal berakhir, tapi k...