fotrek dari kameraku yang ikut happy Kapan hari ada satu konten lewat di beranda tiktokku, kontennya mbak mbak pulang kerja weekend langsung cus mendaki, seru kali bisa meluangkan waktunya untuk ' healing ' pikirku. Lalu aku bergulir ke comment section dan nemu beberapa komentar gini "kayaknya hobi ini bakal berakhir" terus ada yang bales "semua hobi bakal berakhir, kak." Aku diem, bengong, kosong. Teringat buku buku jurnalku, buku diary , sepedaku, kameraku, matcha toolsku, alat alat baking -ku, dan buku bacaan yang terakhir kali kubeli. Mereka semua hampir terbengkalai, hampir tak kusentuh lagi, meliriknya pun tak sempat. Aku takut mengiyakan komentar komentar itu. Denial. " aku hanya beristirahat" batinku bohong. Mungkin, hobi itu nggak benar benar berakhir. Mereka cuma lagi duduk diam, menunggu untuk kupanggil lagi, kusentuh lagi. Mereka hanya menunggu, setia, tanpa protes. Malah yang bikin aku takut bukan karena hobiku bakal berakhir, tapi k...
Butuh waktu satu sampai dua tahun untukku memahami apa maunya diri sendiri. Sampai sekarang pun, masih terus belajar memahami. Foto saat jalan -jalan di pasar. Goalsku selalu beda beda tiap bangun tidur. Pagi ini aku ingin tenang sampai ujung hari, pagi kedua aku ingin sesuatu yang baru, pagi ketiga aku ingin maksimalkan perasaanku pada hal yang kutekuni, pagi ke empat aku ingin lebih sosial ke orang orang terdekatku. Sampai pada pagi ke lima, aku tidak punya rencana apapun. Di penghujung hari aku hanya terdiam, berpikir "tidak ada yang bisa ku capai hari ini". Pagi ke enam dan ke tujuh aku coba mengerahkan seluruh bahan bakar yang kupunya, yang ku dapat malah kelelahan. Nggak setiap hari aku berhasil melewati waktu yang kupikir baik untukku. Rencana rencana yang di susun apik dan rapi, bisa keluar dari arena kepemilikanku. Nggak setiap hari aku berhasil memahami diriku. Bahkan dalam cermin mataku, aku bisa menjadi seribu wajah yang tak selalu kukenali. Nggak setiap hari ak...