Langsung ke konten utama

Someone To Talk?

kita pasti pernah mengalami masa-masa sulit di mana rasanya nggak ada tempat buat cerita. kadang cuma sebentar, tapi tetap aja rasanya seperti sendirian. bahkan orang yang kelihatan paling kuat pun, pada akhirnya, butuh tempat untuk bersandar kan? 

karena tuu menurutku, menemukan seseorang untuk diajak berbagi itu penting entah itu teman, keluarga, atau bahkan orang asing yang tanpa diduga bisa menjadi pendengar yang baik. tapi nyatanya nggak semua orang bisa melakukan itu. nggak semua orang punya keberanian untuk membuka diri. kadang ada rasa malu, takut, atau ‘sungkan’ untuk membagikan isi pikiran kita.  

aku sendiri pernah berada dalam fase di mana aku memilih untuk tidak banyak bercerita. berbulan-bulan aku nggak lagi berbagi cerita dengan orang-orang yang biasanya menjadi tempatku mencurahkan isi hati. bukan berarti aku menarik diri sepenuhnya dari kehidupan sosial, aku tetap ngobrol dan tetap ketawa ketiwi sama mereka seperti biasa. tapi bedanya, nggak ada lagi kalimat, "eh, aku mau cerita deh," atau "hari ini rasanya abcd."  

awalnya, aku ngerasa aneh. apa aku jahat sama diri sendiri ya? karena sebelumnya, aku tuh tipe orang yang suka berbagi dan langsung cerita kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranku hehe. tapi makin ke sini, aku sadar kalo ini bukan bentuk menyakiti diri sendiri, justru ini tuh proses mengenal diriku lebih dalam. aku belajar mengandalkan diriku sendiri sebelum menggantungkan every piece of me ke orang lain.  

mungkin, tanpa aku sadari ini juga caraku untuk melindungi diri. sejujurnya aku ‘agak’ trauma untuk terlalu intens bercerita dengan seseorang. bukan berarti aku nggak mau berbagi, tapi lebih ke menyadari bahwa nggak semua harus diceritakan secara langsung, nggak semua isi pikiran harus dikeluarkan setiap saat. ini jadi cara untuk membantuku mengatasi trauma bercerita bukan dengan menutup diri sepenuhnya, tapi dengan belajar memilah mana yang perlu dibagikan dan mana yang cukup aku pahami sendiri.  

kadang, kita hanya butuh jeda, untuk benar-benar merasakan perasaan kita sendiri tanpa validasi dari luar.  
kadang, cukup kita aja yang ngerti.  

dan ternyata, aku merasa lebih tenang. aku nggak lagi merasa harus selalu terhubung dengan orang lain untuk merasa utuh. Aku tetap menikmati waktu bersama mereka, tapi juga nyaman dengan diriku sendiri. Aku tetap bisa berbagi cerita, tapi tanpa merasa ‘harus’ melakukannya setiap saat. dari sini, aku belajar bahwa kesendirian bukan berarti kesepian. Ada begitu banyak hal dalam hidup yang bisa kita nikmati sendiri tanpa harus selalu melibatkan orang lain. i learned that being alone doesn't mean being lonely, there are so many things in life we can enjoy by ourselves without always having someone else there :)

jadi, kalau kamu lagi ada di fase di mana nggak ada ‘someone to talk to' gapapaa. jangan merasa bersalah pada diri sendiri. ur not mean, kamu cuma lagi belajar untuk mandiri secara emosional. dan justru, ini bisa menjadi salah satu bentuk self-care terbaik yang bisa kamu berikan pada diri sendiri.

tapi ingat guis, belajar untuk kuat secara emosional bukan berarti kita nggak butuh orang lain dalam hidup kita. emang banyak keindahan dalam menikmati kesendirian ketika kita bisa memahami diri tanpa menunggu validasi dari orang lain. tapi pada akhirnya, kita tetap manusia. kita tetap butuh interaksi. kadang, yang kita cari bukan solusi atau saran, tapi sekadar perasaan bahwa ada seseorang yang benar-benar mau mendengar tanpa menghakimi.  

karena sekuat apa pun seseorang, pasti ada bagian dari dirinya yang ingin terkoneksi dengan orang lain. ingin merasa lega karena bisa berbagi. dan ingin merasa tenang, bukan hanya dalam diam, tapi juga dalam didengarkan.

"Sebenarnya, tidak didengarkan juga adalah salah satu bentuk kesepian - Ya"

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan - Jalan Malam Denganku dan Isi Kepalaku (Tiap Pukul 10)

fase kehidupan ini bener - bener gak pernah berakhir sebelum kita meninggal. tau gak? fase pelangi menjadi favoriteku. lengkungnya seperti tersenyum padaku. merah, kuning, hijau, tak pernah redup untuk pertama kalinya. fase ini, aku menggandeng seluruh jiwa yang bersembunyi, tak perlu takut, ada aku. fase selanjutnya... aku harap aku masih dibutuhkan. *** anak ini, mula - mula ingin menjadi dokter , namun saat remaja dia ingin jadi polisi, penyanyi, pelukis, pengarang. dewasa ini dia bagaikan air, tak sederas air terjun, tak sekuat deburan ombak, namun tak kering juga seperti musim di awal tahun. anak ini, masih berdiri diatas hobinya, berlayar dengan imajinasinya, larut dalam indahnya proses tumbuh menjadi apa yang dia mau. *** peran. "kamu itu mirip bapakmu" atau "kamu itu mirip ibumu" selain diriku, kalian jadi tau separuhku ya separuhnya mereka. aku suka sekali menulis, aku suka sekali keindahan yang dirasakan melalui mata dan telinga. ternyata disanalah bapakku...

Yang Mulai Sunyi, Diam dan Hilang

fotrek dari kameraku yang ikut happy Kapan hari ada satu konten lewat di beranda tiktokku, kontennya mbak mbak pulang kerja weekend langsung cus mendaki, seru kali bisa meluangkan waktunya untuk ' healing ' pikirku. Lalu aku bergulir ke comment section dan nemu beberapa komentar gini "kayaknya hobi ini bakal berakhir" terus ada yang bales "semua hobi bakal berakhir, kak." Aku diem, bengong, kosong. Teringat buku buku jurnalku, buku diary , sepedaku, kameraku, matcha toolsku, alat alat baking -ku, dan buku bacaan yang terakhir kali kubeli. Mereka semua hampir terbengkalai, hampir tak kusentuh lagi, meliriknya pun tak sempat. Aku takut mengiyakan komentar komentar itu. Denial. " aku hanya beristirahat"  batinku bohong.  Mungkin, hobi itu nggak benar benar berakhir. Mereka cuma lagi duduk diam, menunggu untuk kupanggil lagi, kusentuh lagi. Mereka hanya menunggu, setia, tanpa protes. Malah yang bikin aku takut bukan karena hobiku bakal berakhir, tapi k...

Nggak setiap hari aku berhasil

  Butuh waktu satu sampai dua tahun untukku memahami apa maunya diri sendiri. Sampai sekarang pun, masih terus belajar memahami. Foto saat jalan -jalan di pasar. Goalsku selalu beda beda tiap bangun tidur. Pagi ini aku ingin tenang sampai ujung hari, pagi kedua aku ingin sesuatu yang baru, pagi ketiga aku ingin maksimalkan perasaanku pada hal yang kutekuni, pagi ke empat aku ingin lebih sosial ke orang orang terdekatku. Sampai pada pagi ke lima, aku tidak punya rencana apapun. Di penghujung hari aku hanya terdiam, berpikir "tidak ada yang bisa ku capai hari ini". Pagi ke enam dan ke tujuh aku coba mengerahkan seluruh bahan bakar yang kupunya, yang ku dapat malah kelelahan. Nggak setiap hari aku berhasil melewati waktu yang kupikir baik untukku. Rencana rencana yang di susun apik dan rapi, bisa keluar dari arena kepemilikanku. Nggak setiap hari aku berhasil memahami diriku. Bahkan dalam cermin mataku, aku bisa menjadi seribu wajah yang tak selalu kukenali. Nggak setiap hari ak...