Langsung ke konten utama

Yang Mulai Sunyi, Diam dan Hilang

fotrek dari kameraku yang ikut happy

Kapan hari ada satu konten lewat di beranda tiktokku, kontennya mbak mbak pulang kerja weekend langsung cus mendaki, seru kali bisa meluangkan waktunya untuk 'healing' pikirku. Lalu aku bergulir ke comment section dan nemu beberapa komentar gini "kayaknya hobi ini bakal berakhir" terus ada yang bales "semua hobi bakal berakhir, kak."

Aku diem, bengong, kosong. Teringat buku buku jurnalku, buku diary, sepedaku, kameraku, matcha toolsku, alat alat baking-ku, dan buku bacaan yang terakhir kali kubeli. Mereka semua hampir terbengkalai, hampir tak kusentuh lagi, meliriknya pun tak sempat. Aku takut mengiyakan komentar komentar itu. Denial. "aku hanya beristirahat" batinku bohong. 

Mungkin, hobi itu nggak benar benar berakhir. Mereka cuma lagi duduk diam, menunggu untuk kupanggil lagi, kusentuh lagi. Mereka hanya menunggu, setia, tanpa protes. Malah yang bikin aku takut bukan karena hobiku bakal berakhir, tapi kalau aku mulai lupa gimana rasanya menikmati hobiku, ceilah. Tapi iya juga, satu ketika aku balik dari hibernasi panjang, aku bingung gimana nemuin PeWe-nya lagi ya...? 

Sekarang, udah beberapa bulan sejak aku balik lagi baca buku, kemarin aku mulai baca buku ke-9 [yeay], minggu lalu aku mulai prepare bikin layout jurnal, mulai pake lagi kameraku buat jalan jalan (alias me time) ke Malang, dan barusan aku bikin matcha lagi setelah sekian lama [hehehe] tapi masih gatau bakal open order matchamel nya kapan, jangan teror aku :)

Satu hal yang aku sadari, hobi tuh bukan cuma mengisi kesenangan, melainkan punya hobi tuh bikin rasa percaya diri meningkat. "aku bisa loh," "aku berwarna," "aku produktif," "aku punya skill," "aku cukup," jadi mantra buat ingetin diri sendiri!

I wish. Aku, Kamu, kita semua bisa lebih disiplin sama hobi yang kita punya. Menjadikan hobi tempat pulang, tempat istirahat, tempat mengingat kalau kita juga punya sisi hidup  lainnya. Mereka gak hilang maupun berakhir, mereka nungguin kita kok.

Selamat menjemput versi diri yang nggak cuma sibuk, tapi juga bahagiaaa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan - Jalan Malam Denganku dan Isi Kepalaku (Tiap Pukul 10)

fase kehidupan ini bener - bener gak pernah berakhir sebelum kita meninggal. tau gak? fase pelangi menjadi favoriteku. lengkungnya seperti tersenyum padaku. merah, kuning, hijau, tak pernah redup untuk pertama kalinya. fase ini, aku menggandeng seluruh jiwa yang bersembunyi, tak perlu takut, ada aku. fase selanjutnya... aku harap aku masih dibutuhkan. *** anak ini, mula - mula ingin menjadi dokter , namun saat remaja dia ingin jadi polisi, penyanyi, pelukis, pengarang. dewasa ini dia bagaikan air, tak sederas air terjun, tak sekuat deburan ombak, namun tak kering juga seperti musim di awal tahun. anak ini, masih berdiri diatas hobinya, berlayar dengan imajinasinya, larut dalam indahnya proses tumbuh menjadi apa yang dia mau. *** peran. "kamu itu mirip bapakmu" atau "kamu itu mirip ibumu" selain diriku, kalian jadi tau separuhku ya separuhnya mereka. aku suka sekali menulis, aku suka sekali keindahan yang dirasakan melalui mata dan telinga. ternyata disanalah bapakku...

Nggak setiap hari aku berhasil

  Butuh waktu satu sampai dua tahun untukku memahami apa maunya diri sendiri. Sampai sekarang pun, masih terus belajar memahami. Foto saat jalan -jalan di pasar. Goalsku selalu beda beda tiap bangun tidur. Pagi ini aku ingin tenang sampai ujung hari, pagi kedua aku ingin sesuatu yang baru, pagi ketiga aku ingin maksimalkan perasaanku pada hal yang kutekuni, pagi ke empat aku ingin lebih sosial ke orang orang terdekatku. Sampai pada pagi ke lima, aku tidak punya rencana apapun. Di penghujung hari aku hanya terdiam, berpikir "tidak ada yang bisa ku capai hari ini". Pagi ke enam dan ke tujuh aku coba mengerahkan seluruh bahan bakar yang kupunya, yang ku dapat malah kelelahan. Nggak setiap hari aku berhasil melewati waktu yang kupikir baik untukku. Rencana rencana yang di susun apik dan rapi, bisa keluar dari arena kepemilikanku. Nggak setiap hari aku berhasil memahami diriku. Bahkan dalam cermin mataku, aku bisa menjadi seribu wajah yang tak selalu kukenali. Nggak setiap hari ak...