fase kehidupan ini bener - bener gak pernah berakhir sebelum kita meninggal. tau gak? fase pelangi menjadi favoriteku. lengkungnya seperti tersenyum padaku. merah, kuning, hijau, tak pernah redup untuk pertama kalinya. fase ini, aku menggandeng seluruh jiwa yang bersembunyi, tak perlu takut, ada aku.
fase selanjutnya... aku harap aku masih dibutuhkan.
***
anak ini, mula - mula ingin menjadi dokter , namun saat remaja dia ingin jadi polisi, penyanyi, pelukis, pengarang. dewasa ini dia bagaikan air, tak sederas air terjun, tak sekuat deburan ombak, namun tak kering juga seperti musim di awal tahun.
anak ini, masih berdiri diatas hobinya, berlayar dengan imajinasinya, larut dalam indahnya proses tumbuh menjadi apa yang dia mau.
***
peran.
"kamu itu mirip bapakmu" atau "kamu itu mirip ibumu"
selain diriku, kalian jadi tau separuhku ya separuhnya mereka. aku suka sekali menulis, aku suka sekali keindahan yang dirasakan melalui mata dan telinga. ternyata disanalah bapakku. perasaku terlalu empuk, berani disaat takut, ternyata itu ibuku. keduanya tidak pernah ingin jadi sempurna, but I just took it as the nicest gift ever.
***
Setelah Sore, aku mengevaluasi diri, pernahkah aku buat waktu marah?
bisa gak selama hidup kita gak membuat waktu marah? justru seringnya kita marah terhadap waktu.
ketidaktepatan, keterlambatan, pembatalan, atau terlalu cepat.
padahal waktu di depan itu reminder buat kita untuk siap - siap.
dan waktu yang berlalu, membangunkan kita untuk kembali berjalan.
dan ya, Sore masih membuatku mikir hingga saat ini.
***
sebentar lagi lampu - lampu akan dimatikan.
namun pikiranku sudah melolong bak serigala memanggil kawanannya.
apa yang mau dibahas malam ini?
ah tidak tidak, ramai sekali datangnya.
setidaknya datang saat aku punya banyak bekal.
**
kalau sudah berani menatap laut
kuharap tak ada lagi sisa dirimu di tiap hembusan angin
laut biru itu gak akan bisa membunuhku seperti terakhir kali
dan lihatlah, aku menari nari bersama ombak yang dulu tidak kusukai
bersahabat dengan burung camar yang masih menanti punggung tanganmu
***
Semalam yang pekat,
Obrolan kita terhenti, tau tau motormu sudah melaju di ujung jalan
Mataku menyipit, siapa tau kulihat lambaian tanganmu
Semalam yang pekat,
Rembulan malu - malu, mengabarkan kepergianmu
Motor bututmu, rompi jeans, dan helm favoritku
Akan kau kemanakan?
***
Belum juga pukul 12
Pesanku tanggal, tergantung, terabaikan
Bahkan tak sempat khawatir
Aku terlewatkan
Kau melewatkan
**
page 179;
larut jiwaku masuk dalam adegan penuh cinta dan luka.
bukannya aku senang mempersedih jiwa.
tapi ini berisi kerinduan, pada cinta yang lama tak menyambangi.
tak kutemukan pada diri manusia manapun.
pada karakter karakter yang fana ini, anganku bergantung.
**
pukul sembilan,
malamku berakhir
kita pun berakhir
***
kadang kadang malam buatku sedih
bukan karena cinta ataupun asa
malam meninggalkanku
dalam ketidaktahuan
lalu, tenggelam
hilang
*
padamu, seluruh memoriku bermuara
sore itu di lapangan yang basah
siang itu di belakang gedung
pagi itu di teras tembok kuning
malam, mundur ingatanku
pada satu masa obrolan singkat kita
"sedang menunggu apa"
to be continued.
Komentar
Posting Komentar