Langsung ke konten utama

Terima kasih!

Ternyata menuju usia 24 itu bisa seseru itu, sesedih itu, sesemangat itu, seletih itu, sengakak itu, sehangat itu, sedeg-degan itu, dan semua “se-se” lainnya. Nggak nyangka, karena bersyukur dunia masih mengizinkan hidup sampai pagi ini. Semoga lebih lama lagi ya.

Terima kasih atas doa-doa yang dilangitkan selama tahun ke-23 ku dan juga atas cinta yang tak terlihat, aku merasa dua hal itu punya nyawa. Aku sudah melakukan banyak hal, merasakan banyak hal baru, dan semua yang tumbuh dalam diriku sampai hari ini pasti ada peran doa dari kalian.

Harapanku di 24 ini, meskipun bahagia dan sedih rasanya tak lagi sama, semoga dunia masih membutuhkan kita lebih lama.

Seseorang pernah berkata, “u didn’t find someone who can help your life” tapi lihat aku sekarang semua ini berkat kalian... dan tentu saja, diriku sendiri.

[now playing Long Live - Taylor Swift]

Ternyata 24 ku, masih seru.

Dewasa ini perayaan ulang tahun bagiku tidak terlalu menggebu seperti dikala belasan tahun. Lebih merasakan apa yang ada, tidak ada pun lebih mudah diterima. Tapi entahlah, kalian begitu manis padaku dengan perayaan - perayaan kecil yang memenuhi hatiku. 

masih seru, sebab aku melihat diriku dengan senyum yang merekah di tengah teriknya si kuning siang ini. Yang biasanya terasa membakar kini begitu hangat lembut setelah pagi tadi dibekukan udara.

Sekali lagi terima kasih untuk segala rasa syukur karena hidupku yang terus berjalan, aku apresiasi segala upaya kalian mengetik singkat dan panjang lebar demi mendoakanku, dan semua ucapan langsung dengan mata yang berbinar, senyum merekah.

Yang lama menetap di hidupku yaaaaaa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan - Jalan Malam Denganku dan Isi Kepalaku (Tiap Pukul 10)

fase kehidupan ini bener - bener gak pernah berakhir sebelum kita meninggal. tau gak? fase pelangi menjadi favoriteku. lengkungnya seperti tersenyum padaku. merah, kuning, hijau, tak pernah redup untuk pertama kalinya. fase ini, aku menggandeng seluruh jiwa yang bersembunyi, tak perlu takut, ada aku. fase selanjutnya... aku harap aku masih dibutuhkan. *** anak ini, mula - mula ingin menjadi dokter , namun saat remaja dia ingin jadi polisi, penyanyi, pelukis, pengarang. dewasa ini dia bagaikan air, tak sederas air terjun, tak sekuat deburan ombak, namun tak kering juga seperti musim di awal tahun. anak ini, masih berdiri diatas hobinya, berlayar dengan imajinasinya, larut dalam indahnya proses tumbuh menjadi apa yang dia mau. *** peran. "kamu itu mirip bapakmu" atau "kamu itu mirip ibumu" selain diriku, kalian jadi tau separuhku ya separuhnya mereka. aku suka sekali menulis, aku suka sekali keindahan yang dirasakan melalui mata dan telinga. ternyata disanalah bapakku...

Yang Mulai Sunyi, Diam dan Hilang

fotrek dari kameraku yang ikut happy Kapan hari ada satu konten lewat di beranda tiktokku, kontennya mbak mbak pulang kerja weekend langsung cus mendaki, seru kali bisa meluangkan waktunya untuk ' healing ' pikirku. Lalu aku bergulir ke comment section dan nemu beberapa komentar gini "kayaknya hobi ini bakal berakhir" terus ada yang bales "semua hobi bakal berakhir, kak." Aku diem, bengong, kosong. Teringat buku buku jurnalku, buku diary , sepedaku, kameraku, matcha toolsku, alat alat baking -ku, dan buku bacaan yang terakhir kali kubeli. Mereka semua hampir terbengkalai, hampir tak kusentuh lagi, meliriknya pun tak sempat. Aku takut mengiyakan komentar komentar itu. Denial. " aku hanya beristirahat"  batinku bohong.  Mungkin, hobi itu nggak benar benar berakhir. Mereka cuma lagi duduk diam, menunggu untuk kupanggil lagi, kusentuh lagi. Mereka hanya menunggu, setia, tanpa protes. Malah yang bikin aku takut bukan karena hobiku bakal berakhir, tapi k...

Nggak setiap hari aku berhasil

  Butuh waktu satu sampai dua tahun untukku memahami apa maunya diri sendiri. Sampai sekarang pun, masih terus belajar memahami. Foto saat jalan -jalan di pasar. Goalsku selalu beda beda tiap bangun tidur. Pagi ini aku ingin tenang sampai ujung hari, pagi kedua aku ingin sesuatu yang baru, pagi ketiga aku ingin maksimalkan perasaanku pada hal yang kutekuni, pagi ke empat aku ingin lebih sosial ke orang orang terdekatku. Sampai pada pagi ke lima, aku tidak punya rencana apapun. Di penghujung hari aku hanya terdiam, berpikir "tidak ada yang bisa ku capai hari ini". Pagi ke enam dan ke tujuh aku coba mengerahkan seluruh bahan bakar yang kupunya, yang ku dapat malah kelelahan. Nggak setiap hari aku berhasil melewati waktu yang kupikir baik untukku. Rencana rencana yang di susun apik dan rapi, bisa keluar dari arena kepemilikanku. Nggak setiap hari aku berhasil memahami diriku. Bahkan dalam cermin mataku, aku bisa menjadi seribu wajah yang tak selalu kukenali. Nggak setiap hari ak...