Langsung ke konten utama

Selama Bukan Kalian

dari banyak jurang yang pernah aku lewati, aku ingin menuntun mereka agar selalu melewati jalan yang dikelilingi kebun dan ladang yang penuh bunga. dari semua air yang pernah aku minum, aku ingin memberi yang paling segar, agar mereka gak rasakan haus lagi. 

tapi aku gak bisa membiarkan mereka tumbuh kosong. setidaknya, mereka rasakan jalan bebatuan yang berlumpur. aku akan sediakan seribu pintu untuk kalian, akan kupastikan di tiap-tiap pintu ada aku. bertanyalah, menangislah, lalu pergi dengan rasa yang penuh.

terkadang, rasa penasaran akan membuat kalian berani, maka itulah kesempatanku melihatmu kuat, aku percaya dengan kekuatan itu. aku tetap disini mengiringi keberanianmu. hingga suatu saat kalian merasa lelah aku akan selalu bersiap sebelum kalian datang, istirahatlah, besok akan aku antar kalian kembali melewati ladang bunga. meski kadang perjalanan denganku juga gak kalah buruk. namun jika itu terasa menyenangkan, akan langsung aku kabarkan pada kalian.

mengantarkan kalian itu hanya sebentar, dan aku menikmatinya. 

kalian paling membuatku takjub, tumbuh begitu cepat hingga tinggi melebihiku ahahahahaha, kerennnn.
dan lebih banyak membuatku bangga, terima kasih ya sudah berbagi momen membanggakan pertama kali denganku. terima kasih atas segala khawatir dan marahmu ketika aku di rapuhkan dunia. maaf kalau cara menegurku kurang nyaman kalian rasakan. kita semua sama-sama pertama kali hidup menjadi manusia. tapi aku juga banyak belajar dari kalian. 

nanti, saat aku sudah gak mengiringi kalian seutuhnya, ingatlah maka aku akan ada. bersinarlah paling terang agar aku dapat merasakan hadirmu dari jauh. karena kalian akan selalu jadi pewarna di tulisan hitam putih ini. 

dari, kakakmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan - Jalan Malam Denganku dan Isi Kepalaku (Tiap Pukul 10)

fase kehidupan ini bener - bener gak pernah berakhir sebelum kita meninggal. tau gak? fase pelangi menjadi favoriteku. lengkungnya seperti tersenyum padaku. merah, kuning, hijau, tak pernah redup untuk pertama kalinya. fase ini, aku menggandeng seluruh jiwa yang bersembunyi, tak perlu takut, ada aku. fase selanjutnya... aku harap aku masih dibutuhkan. *** anak ini, mula - mula ingin menjadi dokter , namun saat remaja dia ingin jadi polisi, penyanyi, pelukis, pengarang. dewasa ini dia bagaikan air, tak sederas air terjun, tak sekuat deburan ombak, namun tak kering juga seperti musim di awal tahun. anak ini, masih berdiri diatas hobinya, berlayar dengan imajinasinya, larut dalam indahnya proses tumbuh menjadi apa yang dia mau. *** peran. "kamu itu mirip bapakmu" atau "kamu itu mirip ibumu" selain diriku, kalian jadi tau separuhku ya separuhnya mereka. aku suka sekali menulis, aku suka sekali keindahan yang dirasakan melalui mata dan telinga. ternyata disanalah bapakku...

Yang Mulai Sunyi, Diam dan Hilang

fotrek dari kameraku yang ikut happy Kapan hari ada satu konten lewat di beranda tiktokku, kontennya mbak mbak pulang kerja weekend langsung cus mendaki, seru kali bisa meluangkan waktunya untuk ' healing ' pikirku. Lalu aku bergulir ke comment section dan nemu beberapa komentar gini "kayaknya hobi ini bakal berakhir" terus ada yang bales "semua hobi bakal berakhir, kak." Aku diem, bengong, kosong. Teringat buku buku jurnalku, buku diary , sepedaku, kameraku, matcha toolsku, alat alat baking -ku, dan buku bacaan yang terakhir kali kubeli. Mereka semua hampir terbengkalai, hampir tak kusentuh lagi, meliriknya pun tak sempat. Aku takut mengiyakan komentar komentar itu. Denial. " aku hanya beristirahat"  batinku bohong.  Mungkin, hobi itu nggak benar benar berakhir. Mereka cuma lagi duduk diam, menunggu untuk kupanggil lagi, kusentuh lagi. Mereka hanya menunggu, setia, tanpa protes. Malah yang bikin aku takut bukan karena hobiku bakal berakhir, tapi k...

Nggak setiap hari aku berhasil

  Butuh waktu satu sampai dua tahun untukku memahami apa maunya diri sendiri. Sampai sekarang pun, masih terus belajar memahami. Foto saat jalan -jalan di pasar. Goalsku selalu beda beda tiap bangun tidur. Pagi ini aku ingin tenang sampai ujung hari, pagi kedua aku ingin sesuatu yang baru, pagi ketiga aku ingin maksimalkan perasaanku pada hal yang kutekuni, pagi ke empat aku ingin lebih sosial ke orang orang terdekatku. Sampai pada pagi ke lima, aku tidak punya rencana apapun. Di penghujung hari aku hanya terdiam, berpikir "tidak ada yang bisa ku capai hari ini". Pagi ke enam dan ke tujuh aku coba mengerahkan seluruh bahan bakar yang kupunya, yang ku dapat malah kelelahan. Nggak setiap hari aku berhasil melewati waktu yang kupikir baik untukku. Rencana rencana yang di susun apik dan rapi, bisa keluar dari arena kepemilikanku. Nggak setiap hari aku berhasil memahami diriku. Bahkan dalam cermin mataku, aku bisa menjadi seribu wajah yang tak selalu kukenali. Nggak setiap hari ak...