Pov: I sold the apartment i bought when i was 25

Siklus berputar, tanpa sadar aku telah sampai pada titik di mana semua hal harus kurelakan, kecuali satu. 
Bloom

Tahun berganti seperti tak pernah meninggalkan luka, tak berpamitan, pada jiwaku. Meskipun aku sudah akrab dengan kehilangan, tetap saja tangki ikhlasku tak selalu mencukupi. Terkadang di suatu sore perjalananku masih kembali pada kabar - kabar yang membawa awan hitam. 

Ninikku, beliau adalah saksi bagaimana indahmu tak pernah menghitam di telinganya. Bibir kami beradu saling melempar tawa, namamu bukan main lucunya ketika aku dianggap 'halu' oleh beliau. Keberanianku sangat berbeda dengan beliau yang kuanggap istri seorang superhero, punya kekuatan super deh kayaknya. Semua kisahku selalu di sambut mata yang hangat, kacang dan ikan pindang sering jadi teman curhat apalagi soal cintaku haha.

Sore itu, tangan kami saling menggenggam, dan dikatakannya "lanjut ketika sudah oke dengan hatimu, jika kemarin tak baik, belum tentu selanjutnya tak pernah indah, kamu akan mekar lagi". Dengan beliau waktuku tak pernah di buru - buru, aku dibiarkan berjalan meski kanan-kiriku berlari. Bahkan ketika saudari mudaku terlebih dulu melangsungkan acara sakral di usianya yang lebih muda dariku. Beliau sangat senang hari itu dan kembali diucapkannya "cantik ya dia (saudariku) sampai pangling, juga sama cantiknya nanti di kamu, semoga ya" sambil tersenyum mata kita tak pernah beradu sekuat pagi itu.

Bulan berlalu, waktu kami disita oleh pekerjaanku yang selalu di makluminya. Panggilan telfon selalu kututup dengan 'maaf, mungkin besok ya ni'. Di situlah tubuhnya mulai layu, satu persatu daunnya rontok, bunga yang selalu indah kini kehilangan warnanya. Satu bulan, beliau hanya bisa tertidur, matanya menatapku tanpa satu kata pun. Masih sempat aku marah pada waktu, jangan terlalu jahat padaku dan beliau. Banyak sekali hal baru dari seorang yang berjarak 700 km, yang kini tinggal di kota asal Ninikku, begitulah kecocokan kami. 

Ninikku selalu rindu pada seorang yang lahir dan membawanya ke kota dengan jarak 700 km itu, pun aku dengan seorang remaja well-done yang juga berjarak 700 km itu, aku menggelitik perut ninikku dengan rindu rindu yang tak pernah bertuan, pecah tawa kami. Kini pria-pria dengan jarak 700 km itu tak pernah kembali, yang satu memang sudah kembali ke tempat gelap namun konon katanya semua yang beliau ingin bisa terwujud, namun yang satu lagi memang sengaja ku lepaskan, biar dia berkelana dengan kapalnya. Aku tak punya daya lebih untuk melanjutkan tanpa Ninikku yang berkata 'halu' padaku, hahaha.

Malam yang sama seperti yang kulakukan pada saat Kai ku berpulang, aku menatap kedua mata ninikku berharap ada sesuatu yang ajaib, berharap hadirku di dekatnya membuatnya ingin kembali melanjutkan cerita-cerita konyol sampai mata itu menyipit, tandanya tawa kami ramai merekah. Kini tangan hangatku yang menggenggam telapak dinginmu. Sekali, tak ada balasan, semakin ku eratkan semakin tak kau balas. Sampai matamu basah, sama denganku. Aku lega, telingamu masih mendengarku, tangisanku. Ni, itu akan menjadi tangisan yang paling indah, yang pernah kau dengar. Sepanjang cerita-cerita kami, tak pernah kusisipkan air mata meski cerita pagi itu berjudul karamnya kapal karena nahkoda melewatkan cintanya. 

Sengaja, agar beliau hanya hafal tangisku pada saat hadir di dunia, saat ultahku yang ke 24 beliau menghadiahiku ikan pindang, itu kesukaanku, dan di terakhir kali aku mengucapkan 'i love u' padanya yang mungkin sudah melihatku dari jarak yang jauh, bahkan mungkin lebih dari 700 km.

Sekarang aku masih sering menangis, tapi sudah tidak makan ikan pindang lagi dan tidak sering memikirkan pria 700 km itu lagi. Enak ya, Ninik sekarang udah peluk-pelukan, bahkan mungkin membicarakanku, menertawakanku lucu kan sama pria 700 km yang udah jadi 0 km itu, selamat deh hahaha.

Mau 700, 1000, bahkan 100.000 km, mudahan jarak kami saat ini menjadi dekat di hati. Namun, jarak 700 km ini sudah berakhir, akan aku jual semua tiket menuju jarak yang membuatku sedih kecuali pada 2 superhero disana.

Untuk semua hati yang masih menggenang, celah untuk cahaya akan selalu ada. Dan pada jarak yang semakin menjauh, jadikanlah dekat pada yang memiliki percaya besar.

trims yang udah berkenan baca romantisme cucu dan ninik ini hehe, bahasanya sengaja pake bahasa jokes kita biar di atas sana, beliau tetep bisa ketawa sama tulisanku hehe. god bless u all.

What died didn't stay dead, i'd think you were still around. I hope our path cross again. BYE

Komentar