Langsung ke konten utama

Prioritas

akhir-akhir ini muncul satu kalimat yang luar biasa insightfull, sampai semua yang aku pikirkan kembali ke tujuan dari satu kalimat ini.

"karena Allah SWT punya aturan"

masyaAllah kalimat ini tuh bikin ngebuka semua kekhawatiran, kegelisahan, kesedihan dan rasa penasaran jadi lebih legowo, untuk diriku yang masih banyak belajar ini. cry.

se-simple itukah untuk merasakan bahwa ini ketetapan Allah dan hidup tanpa mengeluh? gak dong, namanya juga manusia pasti pernah "ya Allah kok gini sih" dan menurutku pembahasan ini bakal make sense sama pepatah "apa yang kamu tabur, itu yang akan kamu tuai".

mari mengambil contoh dari kejadian kecil yang akhirnya ini jadi besar karena 'larut'. guest starnya adalahhhhh jeng...jeng...jeng, YAP 'Sholat'. kadang apa yang kita minta lebih besar daripada yang kita beri, wallahu a'lam. kalo udah menyangkut Sholat tuh biasanya, udah waktunya tapi ngantuk, udah waktunya tapi cucian belom beres, udah waktunya tapi lagi ada urusan dan alasan lain yang berusaha menghentikan tubuh kita buat bergerak, ini tuh seperti kamu minta jadi prioritas, dikabarin tiap waktu, tapi kamu cuek cuek aja, sedih gak kalo jadi pasangannya? banget.

emang sih, kadang sibuknya kita beneran gak bisa diganggu gugat untuk melakukan urusan lainnya, apalagi para pekerja, semoga kalian dapat atasan yang memudahkan kalian dalam beribadah. kalo absen aja harus on time, kenapa yang lain kudu molor? kita semua belajar bareng-bareng yaa.

that's why Allah punya aturan ini, punya aturan untuk menyembahnya, minta sama Allah, kembali ke Allah, dan serahkan. kadang yang berat tuh part serahkan, karena semua masih menjadi misteri, tapi semua sesuai apa yang dijanjikan, kita bisa bayangkan betapa indahnya hadiah dari Allah kalo kita nurut.

berdoa sampai Allah bilang "serahkan padaku kemudian lanjutkan perjalananmu dengan penuh usaha".

pernah ada cerita. pagi-pagi aku mau ambil baju di kang jahit langgananku, udah janjian sesuai jam yang di rencanakan, aku dateng on time tapi 20 menit an gak di bukain sama yang punya rumah. karena aku buru - buru mau ke tujuan selanjutnya, aku balik deh, eh tiba tiba beliaunya keluar dalam keadaan masih pakai mukenah, beliau ternyata lagi sholat sunnah. meskipun aku pembeli adalah raja tapi ada raja yang sesungguhnya sedang di elu-elukan oleh beliau. gak ditinggal, malah aku kan yang mau menyerah pulang hahaaaaha. astaghfirullah.

aku pernah baca dari sebuah kutipan bahwa "dosa itu pasti berpengaruh, kalau pengaruhnya bukan susah paham ilmu, maka bisa jadi pengaruhnya berupa susah dalam mengamalkannya, atau tidak/kurang ikhlas dalam mengamalkannya - CR Tiktok" naudzubillah mindzalik. semoga Allah ridho dengan apa yang kita tanam dan lakukan selama ini yaa guys.

kita bisa buat aturan sendiri atas waktu kita, hidup kita, atas apa yang akan kita kerjakan hari ini, gapapa banget kita punya aturan dalam hidup kita sendiri, tapi tetep ingat ada yang lebih prioritas diatas segala prioritas. baiknya merendah dulu lah kita, semoga nanti ditinggikan dalam hal-hal yang tak terduga. terbang nanti kita sama-sama.

terima kasih sudah membaca, ambil baiknya buang buruknya, maaf ya kalau ada yang gak berkenan. selamat beraktivitas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan - Jalan Malam Denganku dan Isi Kepalaku (Tiap Pukul 10)

fase kehidupan ini bener - bener gak pernah berakhir sebelum kita meninggal. tau gak? fase pelangi menjadi favoriteku. lengkungnya seperti tersenyum padaku. merah, kuning, hijau, tak pernah redup untuk pertama kalinya. fase ini, aku menggandeng seluruh jiwa yang bersembunyi, tak perlu takut, ada aku. fase selanjutnya... aku harap aku masih dibutuhkan. *** anak ini, mula - mula ingin menjadi dokter , namun saat remaja dia ingin jadi polisi, penyanyi, pelukis, pengarang. dewasa ini dia bagaikan air, tak sederas air terjun, tak sekuat deburan ombak, namun tak kering juga seperti musim di awal tahun. anak ini, masih berdiri diatas hobinya, berlayar dengan imajinasinya, larut dalam indahnya proses tumbuh menjadi apa yang dia mau. *** peran. "kamu itu mirip bapakmu" atau "kamu itu mirip ibumu" selain diriku, kalian jadi tau separuhku ya separuhnya mereka. aku suka sekali menulis, aku suka sekali keindahan yang dirasakan melalui mata dan telinga. ternyata disanalah bapakku...

Yang Mulai Sunyi, Diam dan Hilang

fotrek dari kameraku yang ikut happy Kapan hari ada satu konten lewat di beranda tiktokku, kontennya mbak mbak pulang kerja weekend langsung cus mendaki, seru kali bisa meluangkan waktunya untuk ' healing ' pikirku. Lalu aku bergulir ke comment section dan nemu beberapa komentar gini "kayaknya hobi ini bakal berakhir" terus ada yang bales "semua hobi bakal berakhir, kak." Aku diem, bengong, kosong. Teringat buku buku jurnalku, buku diary , sepedaku, kameraku, matcha toolsku, alat alat baking -ku, dan buku bacaan yang terakhir kali kubeli. Mereka semua hampir terbengkalai, hampir tak kusentuh lagi, meliriknya pun tak sempat. Aku takut mengiyakan komentar komentar itu. Denial. " aku hanya beristirahat"  batinku bohong.  Mungkin, hobi itu nggak benar benar berakhir. Mereka cuma lagi duduk diam, menunggu untuk kupanggil lagi, kusentuh lagi. Mereka hanya menunggu, setia, tanpa protes. Malah yang bikin aku takut bukan karena hobiku bakal berakhir, tapi k...

Nggak setiap hari aku berhasil

  Butuh waktu satu sampai dua tahun untukku memahami apa maunya diri sendiri. Sampai sekarang pun, masih terus belajar memahami. Foto saat jalan -jalan di pasar. Goalsku selalu beda beda tiap bangun tidur. Pagi ini aku ingin tenang sampai ujung hari, pagi kedua aku ingin sesuatu yang baru, pagi ketiga aku ingin maksimalkan perasaanku pada hal yang kutekuni, pagi ke empat aku ingin lebih sosial ke orang orang terdekatku. Sampai pada pagi ke lima, aku tidak punya rencana apapun. Di penghujung hari aku hanya terdiam, berpikir "tidak ada yang bisa ku capai hari ini". Pagi ke enam dan ke tujuh aku coba mengerahkan seluruh bahan bakar yang kupunya, yang ku dapat malah kelelahan. Nggak setiap hari aku berhasil melewati waktu yang kupikir baik untukku. Rencana rencana yang di susun apik dan rapi, bisa keluar dari arena kepemilikanku. Nggak setiap hari aku berhasil memahami diriku. Bahkan dalam cermin mataku, aku bisa menjadi seribu wajah yang tak selalu kukenali. Nggak setiap hari ak...