Langsung ke konten utama

Refleksi Tengah Malam

pernah gaksi kelen ada di momen hatimu tuh diam-diam banyak tanya kek "ini beneran keinginanku, atau aku hanya ingin diakui?

well, kita hidup di dunia yang berisik, gemuruh riuh dimana-mana. pencapaian sering kali diukur dari apa yang dilihat, bukan dari apa yang dirasakan. luxury brand, perfect couple, tubuh ideal, bahkan kesuksesan yang menyilaukan mata. sadar gak kalau kita tuh sampai lari-larian ngejar semua itu, padahal kita gak tau apa bener hal itu bisa mengisi ruang kosong di diri kita, di jiwa kita, atau hanya untuk memenuhi ekspetasi dunia sih?

aku pernah ngebayangin, gimana ya kalau gak ada satupun mata yang melihat, gak ada lagi semarak pujian, apa aku masih pengen sama hal itu yaaaa? 

dan masih sering kulupa, bahwa yang benar dikatakan kebahagiaan itu gak pernah lahir dari sebuah pembuktian. padahal kebahagiaan itu sunyi, sepi, yang tumbuh dan dipupuk oleh perasaan cukup. cukup untuk diri sendiri, tidak untuk dunia.

sometimes kita tuh lari kenceng mengejar sesuatu yang nyatanya itu cuma sebuah bayangan. kita mikirnya kalau kita punya bayangan itu bisa bikin kita lebih bernilai, bintang empat, lebih banyak dapat cinta, and people will appreciate it more. padahal kita gak butuh itu untuk merasa utuh.

happiness is not a matter what we have, tapi tentang perdamaian diri dengan hal-hal yang sudah kita miliki.

yuk melipir dikit ke rest area, n talk to urself dalam-dalam, kalau gak ada perhatian dari dunia, kalau hanya diri yang tau, apa masih mau punya itu semua? once again, masih kah?

temukan rasa lega itu, rasa ikhlas, rasa syukur. karena saat kita memilih apa yang benar-benar kita inginkan (bukan apa yang ingin dilihat dunya) insyaAllah kita bakal nemuin sesuatu yang lebih berharga dari itu.

damai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan - Jalan Malam Denganku dan Isi Kepalaku (Tiap Pukul 10)

fase kehidupan ini bener - bener gak pernah berakhir sebelum kita meninggal. tau gak? fase pelangi menjadi favoriteku. lengkungnya seperti tersenyum padaku. merah, kuning, hijau, tak pernah redup untuk pertama kalinya. fase ini, aku menggandeng seluruh jiwa yang bersembunyi, tak perlu takut, ada aku. fase selanjutnya... aku harap aku masih dibutuhkan. *** anak ini, mula - mula ingin menjadi dokter , namun saat remaja dia ingin jadi polisi, penyanyi, pelukis, pengarang. dewasa ini dia bagaikan air, tak sederas air terjun, tak sekuat deburan ombak, namun tak kering juga seperti musim di awal tahun. anak ini, masih berdiri diatas hobinya, berlayar dengan imajinasinya, larut dalam indahnya proses tumbuh menjadi apa yang dia mau. *** peran. "kamu itu mirip bapakmu" atau "kamu itu mirip ibumu" selain diriku, kalian jadi tau separuhku ya separuhnya mereka. aku suka sekali menulis, aku suka sekali keindahan yang dirasakan melalui mata dan telinga. ternyata disanalah bapakku...

Yang Mulai Sunyi, Diam dan Hilang

fotrek dari kameraku yang ikut happy Kapan hari ada satu konten lewat di beranda tiktokku, kontennya mbak mbak pulang kerja weekend langsung cus mendaki, seru kali bisa meluangkan waktunya untuk ' healing ' pikirku. Lalu aku bergulir ke comment section dan nemu beberapa komentar gini "kayaknya hobi ini bakal berakhir" terus ada yang bales "semua hobi bakal berakhir, kak." Aku diem, bengong, kosong. Teringat buku buku jurnalku, buku diary , sepedaku, kameraku, matcha toolsku, alat alat baking -ku, dan buku bacaan yang terakhir kali kubeli. Mereka semua hampir terbengkalai, hampir tak kusentuh lagi, meliriknya pun tak sempat. Aku takut mengiyakan komentar komentar itu. Denial. " aku hanya beristirahat"  batinku bohong.  Mungkin, hobi itu nggak benar benar berakhir. Mereka cuma lagi duduk diam, menunggu untuk kupanggil lagi, kusentuh lagi. Mereka hanya menunggu, setia, tanpa protes. Malah yang bikin aku takut bukan karena hobiku bakal berakhir, tapi k...

Nggak setiap hari aku berhasil

  Butuh waktu satu sampai dua tahun untukku memahami apa maunya diri sendiri. Sampai sekarang pun, masih terus belajar memahami. Foto saat jalan -jalan di pasar. Goalsku selalu beda beda tiap bangun tidur. Pagi ini aku ingin tenang sampai ujung hari, pagi kedua aku ingin sesuatu yang baru, pagi ketiga aku ingin maksimalkan perasaanku pada hal yang kutekuni, pagi ke empat aku ingin lebih sosial ke orang orang terdekatku. Sampai pada pagi ke lima, aku tidak punya rencana apapun. Di penghujung hari aku hanya terdiam, berpikir "tidak ada yang bisa ku capai hari ini". Pagi ke enam dan ke tujuh aku coba mengerahkan seluruh bahan bakar yang kupunya, yang ku dapat malah kelelahan. Nggak setiap hari aku berhasil melewati waktu yang kupikir baik untukku. Rencana rencana yang di susun apik dan rapi, bisa keluar dari arena kepemilikanku. Nggak setiap hari aku berhasil memahami diriku. Bahkan dalam cermin mataku, aku bisa menjadi seribu wajah yang tak selalu kukenali. Nggak setiap hari ak...