Langsung ke konten utama

Luka

peeps, mau ceritaaaa. hari Minggu lalu aku kan gowes ke tempat hidden gem di tepian sungai gituu. viewnya cakep banget, cocok buat ngelamun atau sekadar duduk santai. nah, fun fact-nya sungai ini tuh ternyata terbentuk karena rembesan letusan lumpur lapindo. jadi, limbah lumpurnya dibuang ke sungai di dekat tol HK, terus ngerembes ke mana-mana. *cmiiw ya kalau ada yang lebih paham.

yang awalnya cuma duduk-duduk menikmati suasana, nggak lama kemudian ada bapak-bapak naik motor, yang tiba-tiba berhenti dan turun. refflek was-was dong, secara itu tempatnya sepiii. tapi ternyata bapaknya nggak ada maksud aneh-aneh. beliau cuma berdiri sebentar, terus tiba-tiba bilang "yowes ngene iki urip, dino-dino kari ngenteni bengi tok" [ya beginilah hidup. setiap hari cuma nunggu malam datang].

ternyata dulu rumah beliau ada di situ, tepat di depan kita (pemandangan yang lagi aku nikmati) tapi sekarang udah nggak berbentuk sama sekali gara-gara lumpur Lapindo, beliau kehilangan segalanya. terus beliau bilang kalau setiap minggu beliau pasti datang ke tempat itu, sekadar menyambangi tanah kelahirannya, meskipun yang disambangi udah jadi rerumputan dan sungai.

jujur, aku ngerasa mak deg banget cz udah 19 tahun berlalu sejak bencana itu lohhh, tapi rasa kehilangan, trauma, dan kesedihan orang-orang Porong masih sekuat itu, se-mengganjal itu. mereka kehilangan rumah, kenangan, bahkan mungkin masa depan yang dulu mereka bayangkan. dan satu-satunya cara buat mengobati rindu yaa cuma dengan datang ke tempat yang udah berubah jadi kenangan. tapi dengan kayak gitu apa benar-benar bisa menyembuhkan??? :(

kadang kita lupa kalau ada luka yang nggak bisa sembuh cuma karena waktu berlalu dan ada kehilangan yang nggak akan pernah bisa tergantikan-

aku jadi kepikiran, buat kita yang masih punya rumah buat pulang, masih bisa ketemu keluarga, masih punya tempat buat nyandar, sebenarnya kita tuh seberuntung itu. tapi seringnya, kita baru sadar setelah ngeliat orang lain yang kehilangan semuanya.  

bapak tadi mungkin cuma cerita sebentar, tapi rasanya kayak ninggalin sesuatu :'( betapa tempat itu bisa nyimpen luka sebesar itu. dan betapa waktu nggak selalu bisa nyembuhin, tapi cuma ngajarin buat terbiasa hidup dengan kehilangan.  

gimana dah caranya move on dari sesuatu yang bahkan nggak bisa balik lagi??? dan yang bikin makin sedih, ini bukan cerita satu-dua orang. ada ratusan, bahkan ribuan orang yang ngalamin kehilangan yang sama. bayangin rumah mereka mungkin udah tenggelam, tapi kenangan mereka tetap hidup. dan mereka nggak punya pilihan selain terus datang ke tempat yang sekarang cuma jadi bayangan masa lalu </3

niatnya nyari udara segar, tapi malah pulang bawa cerita yang bikin mewek. kadang hidup emang gitu ya, nggak selalu kasih jawaban atau jalan keluar, tapi bikin kita sadar kalau ada luka yang nggak bisa dilihat orang lain, ada kehilangan yang nggak bisa digantikan, dan ada kenangan yang nggak bisa ditinggalkan. di sisi lain seneng banget karena bapaknya bisa cerita even ke orang asing kek kita, atleast beliau dah keluarin uneg-uneg dihatinya. 

soo, buat kita, mungkin ini jadi pengingat kecil kalau hal-hal yang kita anggap biasa hari ini, bisa jadi sesuatu yang kita rindukan besok. jadi sebelum semuanya cuma jadi kenangan, jangan lupa buat benar-benar hadir dan menghargai apa yang kita punya sekarang :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan - Jalan Malam Denganku dan Isi Kepalaku (Tiap Pukul 10)

fase kehidupan ini bener - bener gak pernah berakhir sebelum kita meninggal. tau gak? fase pelangi menjadi favoriteku. lengkungnya seperti tersenyum padaku. merah, kuning, hijau, tak pernah redup untuk pertama kalinya. fase ini, aku menggandeng seluruh jiwa yang bersembunyi, tak perlu takut, ada aku. fase selanjutnya... aku harap aku masih dibutuhkan. *** anak ini, mula - mula ingin menjadi dokter , namun saat remaja dia ingin jadi polisi, penyanyi, pelukis, pengarang. dewasa ini dia bagaikan air, tak sederas air terjun, tak sekuat deburan ombak, namun tak kering juga seperti musim di awal tahun. anak ini, masih berdiri diatas hobinya, berlayar dengan imajinasinya, larut dalam indahnya proses tumbuh menjadi apa yang dia mau. *** peran. "kamu itu mirip bapakmu" atau "kamu itu mirip ibumu" selain diriku, kalian jadi tau separuhku ya separuhnya mereka. aku suka sekali menulis, aku suka sekali keindahan yang dirasakan melalui mata dan telinga. ternyata disanalah bapakku...

Yang Mulai Sunyi, Diam dan Hilang

fotrek dari kameraku yang ikut happy Kapan hari ada satu konten lewat di beranda tiktokku, kontennya mbak mbak pulang kerja weekend langsung cus mendaki, seru kali bisa meluangkan waktunya untuk ' healing ' pikirku. Lalu aku bergulir ke comment section dan nemu beberapa komentar gini "kayaknya hobi ini bakal berakhir" terus ada yang bales "semua hobi bakal berakhir, kak." Aku diem, bengong, kosong. Teringat buku buku jurnalku, buku diary , sepedaku, kameraku, matcha toolsku, alat alat baking -ku, dan buku bacaan yang terakhir kali kubeli. Mereka semua hampir terbengkalai, hampir tak kusentuh lagi, meliriknya pun tak sempat. Aku takut mengiyakan komentar komentar itu. Denial. " aku hanya beristirahat"  batinku bohong.  Mungkin, hobi itu nggak benar benar berakhir. Mereka cuma lagi duduk diam, menunggu untuk kupanggil lagi, kusentuh lagi. Mereka hanya menunggu, setia, tanpa protes. Malah yang bikin aku takut bukan karena hobiku bakal berakhir, tapi k...

Nggak setiap hari aku berhasil

  Butuh waktu satu sampai dua tahun untukku memahami apa maunya diri sendiri. Sampai sekarang pun, masih terus belajar memahami. Foto saat jalan -jalan di pasar. Goalsku selalu beda beda tiap bangun tidur. Pagi ini aku ingin tenang sampai ujung hari, pagi kedua aku ingin sesuatu yang baru, pagi ketiga aku ingin maksimalkan perasaanku pada hal yang kutekuni, pagi ke empat aku ingin lebih sosial ke orang orang terdekatku. Sampai pada pagi ke lima, aku tidak punya rencana apapun. Di penghujung hari aku hanya terdiam, berpikir "tidak ada yang bisa ku capai hari ini". Pagi ke enam dan ke tujuh aku coba mengerahkan seluruh bahan bakar yang kupunya, yang ku dapat malah kelelahan. Nggak setiap hari aku berhasil melewati waktu yang kupikir baik untukku. Rencana rencana yang di susun apik dan rapi, bisa keluar dari arena kepemilikanku. Nggak setiap hari aku berhasil memahami diriku. Bahkan dalam cermin mataku, aku bisa menjadi seribu wajah yang tak selalu kukenali. Nggak setiap hari ak...